Jumat, 16 Januari 2015

Perilaku Makan dari Berbagai Jenis Rayap

Perilaku Makan dari Berbagai Jenis Rayap - Rayap termasuk ke dalam kategori serangga daerah tropika dan juga subtropika. Namun, penyebaran rayap kini cenderung sudah meluas dan merambah ke daerah lain. Di daerah tropika, serangga ini bisa ditemukan mulai dari kawasan pantai hingga daratan dengan ketinggian 3000 meter diatas permukaan laut. Dari perilaku makan rayap, sebenarnya kita dapat menarik kesimpulan bahwa serangga ini termasuk kategori binatang perombak bahan mati yang pada dasarnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup dalam ekosistem manusia.
Rayap adalah konsumen primer dalam rantai makanan dan peranannya sangat penting dalam kelangsungan siklus berbagai unsur penting seperti nitrogen dan karbon. Yang jadi masalah adalah manusia juga termasuk konsumen primer yang membutuhkan hasil-hasil tanaman bukan untuk dimakan saja namun untuk digunakan sebagai bahan pembuatan rumah atau bangunan lain. Hal inilah yang mengakibatkan manusia seolah-olah bersaing dengan rayap dan manusia akan terus berusaha membasminya dengan obat anti rayap atau tindakan khusus lainnya yang diperlukan.

Awalnya banyak kalangan pakar dan peneliti yang merasa heran tentang kemampuan rayap dalam memakan atau menyerap selulosa karena manusia saja tidak dapat mencerna selulosa atau bagian berkayu dari sayuran yang sering dimakan. Sementara itu, rayap dapat melumatkan dan menyerap bagian berkayu (selulosa) dan akibatnya sebagian besar ekskremen hanya akan tersisa lignin-nya saja. Hal ini kemudian menjadi lebih jelas setelah penemuan berbagai protozoa flagellata yang terdapat pada usus bagian belakang rayap yang berperan sebagai simbion untuk melumatkan, mencerna dan menyerap selulosa. Bagi jenis rayap yang tidak memiliki protozoa, maka masih bisa menyerap selulosa dengan bantuan jamur perombak kayu yang biasanya dipelihara dalam sarang koloninya.
Makanan pokok atau makanan utama dari semua jenis rayap pada dasarnya sama yakni kayu atau bahan berselulosa. Namun, perilaku makan dari rayap ternyata bermacam-macam. Hampir seluruh jenis kayu merupakan makanan potensial untuk rayap.  Untuk mencapai bangunan kayu yang terpasang, serangga ini bisa keluar dari sarang kemudian melewati liang atau terowongan kembara yang dibuatnya. Bagi jenis rayap subteran yang biasa bersarang dalam tanah namun bisa mencari makan hingga jauh di atas tanah, maka keadaan yang lembab sangat mutlak diperlukan. Hal ini kemudian menjadi alasan kenapa rayap mampu menyerang lemari dalam 1 malam saja.
Jenis rayap kayu kering tidak membutuhkan air (kelembaban), tidak berhubungan dengan tanah dan tidak membuat liang/terowongan panjang untuk menyerang obyek berbahan kayu. Rayap bersarang dalam kayu, memakan kayu dan jika perlu akan menghabiskannya sehingga akan tersisa lapisan luar kayunya saja. Lapisan luar ini sangat tipis sehingga jika ditekan dengan jari maka sama seperti menekan kotak kertas.  Ada pula jenis rayap yang memakan kayu dan masih bersarang pada batang atau dahan pohon. Rayap Neotermes tectonae dapat menimbulkan kerusakan berupa pembengkakan atau gembol yang kemudian menyebabkan kematian pada sebuah pohon jati.




Rayap dikenal memiliki karakter trofalaksis atau kerumunan rayap yang terintegrasi. Rayap muda yang baru saja menetas dari telur awalnya tidak memiliki protozoa untuk mencerna dan menyerap selulosa. Hal ini juga berlaku bagi setiap rayap yang baru saja berganti kulit. Rayap yang telah berganti kulit ini kemudian akan diberi "re-infeksi" protozoa oleh para rayap pekerja melalui trofalaksis. Trofalaksis merupakan perilaku berkerumunnya rayap diantara anggota-anggota koloni dan biasanya dengan saling menjilati mulut dan anus. Dengan perilaku seperti ini, maka protozoa pun dapat ditularkan kepada rayap-rayap  yang memerlukannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar